Drama Sepulang Kerja

16.00 waktu menunjukan jam pulang, tapi kerjaan masih belum beres, terpaksa melanjutkan.

16.05 teman sebelah meja bilang, “Langitnya sudah mendung tuh”.

16.15 mematikan komputer, bersiap pulang. Warna langit semakin kelabu.

16.17 “terimakasih”, ucapan ramah nona fingerprint yang tidak pernah diketahui rupanya, mau si pemilik jari tepat ataupun telat masuk kerja.
Ojek sudah menanti, melambaikan tangan. Bapak ojek menggumam pelan, “udah gelap banget langitnya sebelah sana, pak”.
Di perjalanan menuju stasiun, langit semakin gelap, bapak ojek menawarkan untuk mengambil mantel di rumahnya dahulu, tapi kata saya, “lanjut aja, pak”.

Bandel tidak menerima tawaran bapak ojek. Tak lama setelah itu, hujan turun. Deras.

“Pak saya turun aja, itu ada angkot di depan, bisa lewatin angkotnya, pak”. Ujar saya.
Saya bergegas turun dari ojek, membayar ongkos. Kemudian dengan sigap memberhentikan angkot tersebut.

Baru saja hendak masuk ke angkot, kaget bukan kepalang, di dalamnya ada seorang bapak yang sedang berbaring, entah tidur atau pingsan, dengan kepala diberi alas bantal.
Seorang penumpang memijit pelan kaki si bapak. Ternyata angkot tersebut sudah dicarter, mau antar si bapak ke klinik. Saya berulang kali mengucap maaf. Keadaan canggung.

Belum sampai stasiun, angkot berbelok. Saya turun. Hujan masih deras. Menepi ke warung kopi. Langsung memesan segelas indocoffee agar ada alasan untuk duduk di dalam.
Penjual menyodorkan gelas, asap mengepul, air panas yang dipadukan dengan bubuk kopi saset mengeluarkan aroma khas.

Karena bukan penikmat kopi, bagi orang lain mungkin padanan yang pas, menikmati kopi hangat dengan cuaca dingin.

Belum lima menit lewat, kopi habis.

Buat saya kopi adalah pencahar altenatif, bukan rasa nikmat setelah meminumnya, melainkan rasa mulas yang datang.

17.18 saya masih dwp-image-1865380965jpeg.jpegi warung kopi, 5 KM dari arah stasiun, padahal sudah tidak ngopi. Saya berdiri, memikirkan yang sudah terjadi satu jam tadi.
Dalam hati menyesali.
Harusnya tadi pulang lebih awal,

Harusnya tadi terima tawaran bapak ojek untuk mengambil mantel,

Harusnya ada tukang becak lewat sini,

Harusnya..

ah sudahlah. Semua ada hikmah.

 

Iklan
Posted in: Tak Berkategori

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s