Hari Pertama Sekolah

 

hari-pertama-sekolah

Setelah liburan sekolah usai, sebagian mungkin rindu dengan suasana sekolah. Sebagian lagi bisa jadi mengeluh, karena waktu libur akhirnya berlalu. Senin kemarin, bertepatan dengan tanggal 18 Juli 2016, sekolah-sekolah di Jakarta kembali memulai aktifitas untuk kegiatan tahun ajaran 2016-2017.

Memasuki tahun ajaran baru, bagi siswa sekolah adalah memasuki materi baru, suasana baru, dan pengalaman baru. Terutama bagi siswa baru di kelas satu, semua serba baru dari mulai semangat sampai baju dan buku.

Momen yang serba baru terasa spesial, hingga membuat menteri pendidikan dasar dan menengah kita, bapak Anies Baswedan, mengeluarkan edaran berupa himbauan, agar para orang tua mengantar anak-anaknya pada hari spesial tersebut. Hal ini dikampanyekan, agar menciptakan iklim pembelajaran yang positif dan menyenangkan.

Masih melekat jelas di ingatan saya, waktu itu bulan Juli tahun 1991, saya yang masih berusia lima tahun merasa sangat bergairah menyambut hari pertama berangkat ke sekolah. Saya terdaftar sebagai siswa kelas enol di madrasah ibtidaiyah yang jam masuknya pukul satu siang. Pukul sebelas sudah mengenakan seragam dan sepatu baru, sambil menggemblok tas berisi pensil dan buku yang semuanya baru.

Menunggu waktu berangkat sekolah, saya dengan bangga berjalan keluar rumah. Seolah memamerkan ke orang sekitar, bahwa sekarang saya sudah sekolah. Hal yang banyak diinginkan oleh anak-anak kecil lainnya, keinginan terdekat saat menginjak usia lima atau enam tahun yaitu menjadi siswa sekolah.

Akhirnya waktu berangkat tiba juga, setelah mencium tangan ayah, ibu menggamit tangan saya melangkah keluar rumah, berjalan menuju jalan utama yang dilalui kendaraan umum. Setibanya di pinggir jalan utama, jari telunjuk ibu menunjuk ke arah jalan, lalu berhentilah sebuah Bemo. Kendaraan roda tiga yang akhirnya sampai lulus setia mengantar saya, pulang pergi dari sekolah ke rumah.

Perjalanan siang hari bolong, yang diwarnai dengan kemacetan. Tidak menghilangkan rasa gairah saya untuk menuju ke sekolah. Semua penumpang di Bemo, dengan kondisi dengkul saling beradu, berulang kali menyeka keringat yang mengalir di dahi, akibat cuaca panas saat itu.

Akhirnya kami sampai juga di sekolah, gedung madrasah yang juga menjadi tempat tiga kakak saya sekolah, berdiri tegak seolah merangkul mengucap selamat datang ke setiap siswa baru yang datang hari itu.

Pukul satu siang, semua siswa madrasah ibtidaiyah mulai dari kelas enol sampai kelas enam, masing-masing membuat barisan dua banjar di lapangan, dengan pemisahan antara putra dan putri. Dari atas podium suara lantang pemimpin apel, yang juga siswa kelas enam, memberi komando, “seluruh barisan siap grakkk!”, ” cang (lencang-red) depan grakkk!”, tegak grakkk!”.

Selanjutnya apel diisi dengan sambutan dari pimpinan madrasah, membaca doa menuntut ilmu; allahumma kama nawartal qolbi binuuri hidayatika wa syamsika abadan abada, allahummarzuqniy ‘ilman warzuqniy fahman,, dan pengarahan dari kepala sekolah. Selesai apel, tiap kelompok kelas dipanggil satu persatu untuk memasuki lokal yang sudah ditentukan.

Sesampainya di kelas, setelah berebut kursi dengan murid lain, Ibu Barkah, walikelas saya di kelas enol, menyambut semua siswa baru, anak-anak calon penerus generasi bangsa. Dengan senyum penuh kehangatan Bu Barkah meminta agar para murid tenang, dan para orang tua untuk tidak masuk ke ruang kelas. Dengan suara lembut, Bu Barkah memimpin doa untuk memulai kegiatan belajar pada hari itu dan seterusnya.

Banyak kesan yang didapat di hari pertama masuk sekolah, ada kesan sedih ketika seorang anak yang tidak mau ditinggal orang tuanya untuk tetap di kelas, kesan sportifitas yaitu pada waktu berebut kursi untuk dapat menduduki tempat paling depan, kesan kikuk sekaligus menyenangkan karena bertemu dengan orang-orang baru yang akan menjadi teman, atau mungkin sahabat hingga kita tua kelak.

himbauan menteri yang mengajak seluruh orang tua untuk mengantar anak-anaknya ke sekolah, merupakan kebijakan besar dari perbuatan yang mungkin selama ini para orang tua anggap sepele. Usaha dalam menggalakkan para orang tua untuk mengantar anaknya ke sekolah di hari pertama masuk, diharapkan dapat menjadi tren positif di masyarakat kita. Karena hal ini merupakan kegiatan yang bermanfaat, antara lain dapat menumbuhkan rasa percaya diri siswa, dan membuka ruang komunikasi secara langsung antara orang tua, guru, dan pihak sekolah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s