Setelah Pindah, Hadir Fiza

Belum genap sehari kami pindah tempat tinggal, menjelang subuh istri mengeluh kalau ketubannya pecah. Memang usia kehamilannya sudah memasuki bulan ke sembilan dan terakhir kontrol dokter bilang kalau air ketuban istri sedikit nanti akan menyebabkan air ketuban berubah warna apabila terlalu lama di dalam. Benar saja, tidak lama setelah air bening keluar, air berwarna hijau menyusul luruh, istri panik dan saya bingung. Saya panik dan istri bingung. Rasa gundah gulana putra petir langsung datang menyergap, tidak tau tindakan apa yang pertama mesti dilakukan, karena belum ada persiapan apa-apa, dan prediksi dokter kemungkinan melahirkan di akhir bulan.

Rumah sakit, yak rumah sakit adalah tujuan utama untuk saat itu. Maka saya berinisiatif untuk menelpon taksi, ketika sebut alamat rumah ke operator taksi, ternyata kata dia nama jalan tempat kami tinggal tidak tercantum di database kantornya, lalu sang operator meminta nama jalan utama terdekat. Haduh. iMengingat saya dan keluarga belum genap sehari pindah, ketika operator taksi bertanya begitu kita serumah tidak ada yang tau. Mau bertanya ke tetangga sepertinya terlalu pagi (sebelum subuh, cuy). Gagal niat kami memesan taksi, pesan Uber atau Grab pun ga kepikiran.

Mau tidak mau  dan suka tidak suka, untuk berangkat ke rumah sakit terpaksa kami memakai motor. Semilir angin subuh menerpa badan, sambil membonceng istri yang sedang menahan sakit dan mulas. Di perjalanan saya sempat bershalawat lirih, menyanyi pelan, dan mengobrol dengan istri dengan pertanyaan basi (mungkin), “tambah mules, yang?”. Untuk mengurangi ketegangan istri. Tetapi hal ini tidak banyak membantu, karena istri di bangku belakang tetap meringis sakit.

Sampai di rumah sakit, setelah registrasi, istri yang sudah di kursi roda diarahkan untuk ke ruang tindakan lantai dua. Kemudian suster jaga memeriksa tekanan darah, mengambil sampel air ketuban dan menelpon dokter obgyn. Karena terakhir kali diperiksa kata dokter air ketuban istri sedikit dan sekarang sudah menghijau, maka dokter segera memutuskan untuk operasi sesar.

Waktu itu, di ruang tindakan sebelah juga ada pasien yang menyusul masuk setelah kami. tidak lama setelah masuk, langsung terdengar suara tangisan bayi dari bilik sebelah. Saya dan istri cuma saling berpandangan dan tetap berdoa semoga janin di dalam kandungannya tetap sehat. Sambil menunggu dokter tiba, istri tetap dipasang selang deteksi (ga tau istilahnya) untuk merekam detak jantung janin. Alhamdulillah selama menunggu dokter, detak jantung janinnya stabil. Kami khawatir kalau tiba-tiba detaknya melemah, karena katanya bayi bisa keracunan air ketuban yang sudah menghijau.

Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya tim dokter datang. Sebelum istri memasuki ruang operasi, mengingat saya tidak diperkenankan mendampingi, suster memberikan waktu untuk saya dan istri saling bicara. Saya berbisik ke istri, “sukses ya, sayyy”. Tiba-tiba ada Bunda Rita di samping kami. hehe. Ngga lah. Kita berdoa agar semua proses berjalan mudah dan lancar.

Sementara menunggu keluarga datang, di ruang tunggu saya sibuk membuka handphone, mengabarkan dan meminta doa ke saudara dan teman melalui whatsapp.

Akhirnya, setelah kurang lebih menunggu setengah jam, suster memperkenankan saya masuk ke ruang singgah bayi. Menuju perjalanan ke ruangan, hati dipenuhi rasa syukur dan penasaran. Syukur karena akhirnya bayinya lahir dengan selamat dan penasaran mirip siapakah si buah hati. Masuk ke ruangan disambut dokter anak, katanya bayi bapak sudah lahir dengan selamat dan rincian jenis kelamin, tinggi badan dan berat badan si bayi.

Alhamdulillah. Rasa bahagia dan haru bercampur aduk, waktu pertama melihat buah hati sedang tertidur di ranjang bayi. Suster menanyakan siapa nama bayinya, saya jawab Fathia Izzati Zahira, yang berarti kemenangan dan kemuliaan gemilang. Semoga menjadi doa seumur hidup untuk Fiza, begitu kami memanggilnya. Amin. Sementara saya beres mengadzankan lalu memandangi tanpa bosan bayi cantik yang tertidur cantik di boksnya, istri masih di dalam ruangan tindakan menyelesaikan proses operasi.

Fiza

Fiza

Lima belas menit, tiga puluh menit, empat puluh menit, satu jam, saya tidak bosan memandangi Fiza yang wajahnya masih merah. Memandangi permata hati. Istri masuk ke ruang singgah bayi dan menceritakan tentang proses ia tadi melahirkan. Selamat ya, sayang. Keluarga pun tiba di rumah sakit dan menyambut kelahiran Fiza dengan senyum syukur bahagia.

 

Iklan

2 thoughts on “Setelah Pindah, Hadir Fiza

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s