OMG… Menjelajahi Negeri 5 Menara–review

Wow.. Akan segera difilmkan!!!

Hasrat buat baca tulisan fiksi sempat tercabik-cabik, gara-gara baca profil seseorang di sebuah koran yang ngomong “untuk apa kita membaca sesuatu yang dikarang…” Kurang lebih kaya gitu kata-katanya.

Pas baca tulisan itu sempet mikir dan ngupil juga. Iya juga ya, buat apa. Mending baca buku-buku saintis, sejarah, biografi atau bidang keilmuan lainnya biar ada manfaat.

Tapi kayanya saya ga jodoh dengan buku-buku berat (buku serius-bukan buku yang ditempel batu kali), pas baru mulai kata pengantar aja otak kaya ga mau muter, ada paragraf yang dibaca berulang-ulang sampai akhirnya pusink sendiri dan nyerah. :mrgreen:

Ya udah lah kembali ke selera asal, baca buku KARANGAN ORANG, lagian ga selalu buku fiksi itu ga ada nilai pelajarannya. Contohnya buku fiksi yang abis saya tamatin senin kemarin ini. πŸ˜‰

Judulnya Negeri 5 menara. Ada beberapa alasan kenapa saya tertarik dengan buku ini.

Pertama, bukunya nangkring di daftar top ten Gramedia. Saya adalah tipikal pembaca/penyuka sesuatu yang populer-best seller, orang suka ini saya penasaran mau tau, orang beli ini saya ikut, orang makan ini saya juga (kalo dibeliin).

Kedua, tertarik sama sinopsisnya yang bercerita tentang kehidupan pondok pesantren, sebagai-ehm :roll:-alumni pesantren saya jadi penasaran sama ceritanya, sekalian berromantis dengan masa-masa dulu.

Ketiga, karena pas ada duit, kalo ga ada duit mungkin buku yang udah heboh dari Oktober tahun kemarin ini belum saya baca juga. πŸ˜€

Ceritanya…

Alkisah seorang remaja yang baru lulus MTs (setingkat SMP) di daerah Sumatera barat bernama Alif, berkeinginan melanjutkan studi di sebuah SMA favorit di kotanya, agar kelak cita-cita menjadi the next Habibie terwujud. Namun, keinginan tersebut terhalang dengan harapan sang ibu yang menghendaki putera satu-satunya tersebut mendalami ilmu agama. Konflik diawali dari sini, sampai akhirnya datang surat dari sang paman yang sedang sekolah di Kairo dan merekomendasikan sebuah pondok pesantren yang bernama Pondok Madani (PM) di Jawa Timur.

Cerita berlanjut sampai Alif memulai pendidikannya di Pondok Madani, di sana dia bertemu dengan kehidupan dan teman baru. Bersahabat dengan lima orang kawan seasramanya yang berbeda daerah asal. Mereka menamakan kelompoknya dengan Shahibul Menara; ada Raja dari Medan, Alif dari Padang, Atang dari Bandung, Said dari Surabaya, Baso dari Makasar dan Dulmajid dari Sumenep.

Mereka memiliki kebiasaan berkumpul di menara masjid dan memandang awan sore menjelang maghrib berjamaah dan tiap dari mereka mereflesikan tentang bentuk awan yang mereka lihat, ada yang melihatnya berbentuk benua Eropa, benua Amerika, benua Afrika, Benua Asia dan Nusantara. Kelak refleksi dari masing-masing anggota jadi tempat kediaman mereka di akhir kisah.

Puncak dramanya pada bagian ketika salah seorang anggota Shahibul Menara, yaitu Baso, yang memutuskan untuk pulang lebih dulu dari PM dikarenakan nenek tercinta yang juga kerabat satu-satunya sakit. Alasan Baso yang membuat Alif (dan saya) terenyuh dan berfikir lagi kalo mau bertindak egois terhadap diri dan orang lain. πŸ™‚

Menurut saya…

Masjid pesantren saya dulu.

Novel debutan dari Ahmad Fuadi yang lulusan Pondok Modern Gontor ini sangat sederhana, penuh motivasi dan pelajaran. Kesederhanaan terlihat dari tata bahasa yang digunain, ga ribet dan ga bersayap. Buktinya novel setebal 500 halaman ini habis dalam seminggu, ga selama pas baca buku ini. πŸ˜€

Membaca novel trilogi ini juga melihat sisi lain dari sistem pendidikan yang ada di Indonesia, ga semua orang tau bagaimana kehidupan di dalam pondok pesantren. Pendidikan dengan kedisiplinan tinggi, pemberian motivasi tiada henti dari pengasuh pondok kepada anak didik (mantra Man Jadda wa Jadda, contohnya) dan rasa kebersamaan antar sesama.

Ironisnya yang muncul belakangan ini adalah stereotype kalau pesantren itu tempat pengkaderan para teroris. Miris dengarnya, padahal Ulama-ulama hebat dulu dan sekarang itu dulunya santri lho. πŸ™„

Pada beberapa bagian, tidak lupa Fuadi juga membumbui dengan topik kearifan lokal yang ada di Sumatera Barat (daerah asal penulis). Seperti pada bab Sarung dan Kurban, hal-hal kaya gini yang penting untuk diangkat sama setiap penulis, walau cuma jadi sisipan. πŸ™‚

Dari keseluruhan ceritanya, saya sebagai orang yang pernah mondok merasakan kekurang-konyolan Fuadi dalam mengeksplor hal-hal unik yang ada di kehidupan santri. Selain itu, sebagai santri saya rasa tokoh Alif dkk kurang bandel. Karena selama saya mondok banyak kenangan konyol yang masih lucu kalau diingat-ingat. Misalnya teman-teman (saya juga sih) kena penyakit kulit gara-gara adaptasi dengan lingkungan, dihukum karena keluar komplek ga izin, dll. Nanti ah nulis tentang kejadian selama pesantren dulu. :mrgreen:

Dikarenakan bukan peresensi profesional, saya menganggap buku ini, seperti Laskar Pelangi, layak dibaca semua kalangan dan berhak menyandang gelar top ten di dinding kehormatan Gramedia. πŸ˜‰

*Selamat menikmati sajian mewah dari buku yang sederhana ini, Teman! πŸ™‚

Foto masjid by Kkangprabu Doubledee

Iklan

21 thoughts on “OMG… Menjelajahi Negeri 5 Menara–review

  1. tary Sonora berkata:

    saya baru baca setengah, trus lantas bukunya di ambil sama yg punya, heheheh penasaran, tapi cerita nya bagus memotivasi man jadda wa jadda

  2. AeArc berkata:

    haha.. henat amat bisa baca sebanyak itu.. saya aja baca tulisan ini baru setengah udah pusind sndiri, wkwkwkwkk……. pisss :hammer:

  3. elmoudy berkata:

    sering liat buku ini di gramedia.. tapi belum sempet beli.. n baca hanya sekilas saja di gramed itu…

    moga laen kale bisa beli πŸ™‚

  4. wigati berkata:

    temanya unik ya..pesantren sekarang kan kesannya kayak produsen teroris..ckckck
    eh, pinjem dong mas… *endingnya gak enak gini* πŸ˜€

    • Sitopatop berkata:

      iya mba, miris pesantren dicap jd pencetak teroris. walaupun ada, tp kan ga semuanya. πŸ™‚

      btw, pinjem apa nih?! *pura2 ga nangkep*. πŸ˜›

  5. Iwan Suhardi berkata:

    “Saya barusan finish baca tuh buku….sangat inspiratif, Jadi pengen masukin anakku ke PM nih…..tapi jujur, ada keraguan, atau lebih tepatnya rasa iba sama anakku….apa bisa dia ngikutin ketatnya sgl jadwal kegiatan di PM, kesannya, maaf…kaya’ diporsir gitu…Nah, mohon masukan dr anda sbg org yg pernah mondok, gmana baiknya…?”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s