OMG… Meraba Makna Cerita

Cerita tentang cita-cita, waktu kecil saya adalah tipikal orang yang gak pernah mikirin cita-cita, kalo ditanya sama orang mau jadi apa, biasanya akan ikut-ikutan teman, antara jadi dokter atau pilot. πŸ™„

Tapi pas saya udah mulai sedikit-sedikit suka baca *cailehh*, saya kepikiran kalo mau jadi penulis aja (Kalau jadi silibritis cuma cita2 iseng). Menjadi penulis itu hebat–paling gak menurut saya–bisa merangkai kata sedemikian runtut dan ngebuat seseorang yang baca tulisannya itu berimajinasi tentang tulisannya tersebut. Ribet ya kalimat saya?! Entahlah, teringat dengan perkataan Dosen pembimbing waktu pertama kali bimbingan skripsi, katanya mengomentari BAB I saya… “Di tiap paragraf itu harus jelas antara Subjek, predikat dan objeknya. Selain itu, penggunaan ‘titik’ dan ‘koma’ harus lebih diperhatikan..” Dari situ saya sadar sepertinya saya ga berbakat. :mrgreen:

Menyadari saya yang ga berbakat, akhirnya saya memutuskan untuk stop bercita-cita jadi penulis, cukup jadi pembaca yang baik. Ya menulis sedikit saja, itu juga sekedar untuk pribadi. *Tapi kok tulisan ini dishare ya?! :mrgreen:

=================================================================================

Gagak, Kafka, Nakata dan Kucing.Pagi ini akhirnya saya bisa menyelesaikan sebuah buku dari penulis favorit saya. Buah karya dari Haruki Murakami dengan judul Kafka On The Shore, buku yang sudah diterjemahkan dan setebal 597Β  halaman ini saya habiskan dalam waktu yang sangat lama. Selama tiga minggu tepatnya, cara saya membacanya juga sih yang aneh; Satu bab istirahat, satu halaman bosen. Selain itu, godaan untuk buka internet dan browsing iseng sangat kuat. πŸ˜›

Jatuh cinta dengan buku pertama Murakami, Norwegian Wood, saya menduga akan mendapatkan cerita yang menarik juga dari buku ketiganya. Tapi ternyata jauh panggang dari api, ga mateng2 deh dagingnya. Saya mendapatkan banyak kebingungan dari buku ini, kadung cinta dengan Murakami, biarpun bingung buku harus tetap selesai. Kenapa saya bisa bingung? Saya juga ga tau, mungkin kalo diulas sedikit tentang buku ini, kebingungan saya (dan anda) bisa terjawab. πŸ˜†

Tokoh utama dari buku ini ada dua; Pertama, seorang pemuda bernama Kafka, lima belas tahun, yang kabur dari rumahnya dan bertekad mencari kehidupan baru di luar demi pencarian jati diri. Kedua, kakek tua yang bernama Nakata, seseorang yang akibat suatu insiden mengalami kecacatan sepanjang hidupnya. Dua tokoh ini masing-masing mempunyai alur cerita yang berbeda di tiap bab, satu bab tentang cerita Kafka, satu bab selanjutnya tentang Nakata. Begitu seterusnya sampe habis, saya merasa memang ada korelasi di antara dua tokoh itu, sekalipun secara kasat MATA saya ga ketemu hubungan mereka berdua. *Bingung pertama. πŸ˜†

Selain dua tokoh utama, ada juga sebuah tokoh (saya menyebutnya sebuah, karena memang di buku, tokoh ini menyebut dirinya bukan manusia, makhluk atau apapun yang berbentuk), melainkan sebuah konsep yang bebas dari unsur tempat dan waktu. Wujud si Tokoh-Konsep-Abstrak ini diceritakan mirip Kolonel Sanders, pemilik franchise KFC yang terkenal itu. Eh, ada juga tokoh yang disebut ‘Bocah Gagak’. Hadooh, saya semakin bingung, kenapa Murakami harus membuat tokoh sesulit itu ya kalo memang perlu. *Bingung kedua. πŸ˜†

Tapi yang herannya, di sinopsis buku ini dijelaskan bahwa buku ini ber-genre cerita tegang, dengan gaya bahasa dan narasi dialognya yang ringan, serta gagasannya yang eksploratif dan filosofis… Memang ringan dialognya, tapi mungkin pemahaman filosofisnya yang agak berat. πŸ˜›

Seperti sudah menjadi ciri khas tulisan Murakami, setiap ceritanya selalu ada bagian seksualitas (adegan seks) dan si tokoh yang hobi mendengarkan musik klasik, pada buku ini sering banget disebutkan musik Trio Archduke-Bethoveen. Saya tidak pernah dengar musik klasik, tapi saya suka bagian pertama yang disebutkan. πŸ˜†

Maaf kalau sepertinya lebay, sepertinya di buku ini saya ga menemukan kekurangan. Satu-satunya kekurangan adalah dari saya yang ga bisa mencerna lebih jauh tentang makna ceritanya, hanya mampu meraba maknanya dan akhirnya bingung. Pelajaran penting dari buku-yang-sudah-membuat-saya-bingung ini adalah agar saya bisa terbiasa berfikir tentang sesuatu lebih rajin dan dalam lagi.

Walaupun membuat bingung, saya berharap ada orang baik yang mau menerjemahkan buku Murakami lainnya. πŸ˜†

Update :

Sebenernya udah lama sih nyimpannya di note Facebook, saya baru keingetan tadi. Ini review lengkap dari bukunya. Kalau yang saya tulis di atas, sepertinya bukan review, malah curhatan sebagai pembaca aja. :mrgreen:

*Selamat Bingung dan Berfikir, Kawan! Sampai akhirnya kita menemukan jawaban di ujung jalan. (caileh)

Iklan

11 thoughts on “OMG… Meraba Makna Cerita

  1. elmoudy berkata:

    berkunjung malam2,,
    link udah gw pasang jg bos…

    eniwe.. gw blm pernah baca buku itu. tp diliat dr reviewnya kayaknya menarik neh.
    covernya jg mantap

    • Stova berkata:

      makasih kunjungan dan link-nya.. πŸ™‚

      semoga bisa jd penggemar Murakami juga, saya tunggu review-annya mas kalo udah baca… πŸ™‚

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s