Revolusi Pecas Ndahe

Reblogged from Ndoro Kakung:

Seorang perempuan. Sebuah tas Hermes di tangan. Sore itu aku menemuinya di sebuah kafe kecil di jantung Jakarta. Hujan turun berderai-derai di luar. Jalanan macet. Seperti biasa. Duduk di depanku dengan takzim, ia memamerkan senyumnya yang ringkas. Parasnya lesi. Aku maklum. Dia hidup dari satu tekanan ke tekanan lain. Dari sebuah kekuasaan ke kekuasaan berikutnya. Ia terhimpit. Seperti biasa, sore itu ada dua cangkir kopi di atas meja. Satu kopi tubruk untukku. Satu cappucino kesukaannya. Dua cangkir …

….
By Mvstova Posted in Tak terkategori

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s